Monday, March 13, 2017

Tentang Gelisah, dan Bukan Gundah

 

Sepertinya 2 tahun masih belum cukup untukku dapat menjadi seseorang yang berbeda, dan melupakan segalanya yang pernah terjadi dalam kehidupanku. Bayang-bayang itu masih sangat kuat menempel dalam benakku. Bahkan, ini adalah saat ke sekian kalinya aku kembali masuk pada kehidupan seseorang setelah orang yang sebelumnya “mungkin” penuh harap kepadaku akan suatu status terhadapnya, telah lelah menantikan kepastian akan hal itu. Dan bahkan, sampai detik ini pun aku masih belum bisa mengerti arti sesungguhnya istilah yang memberikan bekas luka mendalam padaku, yang mereka sebut dengan “pacaran”. Kata yang menurutku sampai detik ini masih belum bisa konkrit memiliki definisi yang dapat masuk ke dalam akal sehat karena dari beberapa orang yang kujumpai menyampaikan berbagai pernyataan yang berbeda.

Aku memang sudah cukup lama mengenal istilah itu lengkap dengan berbagai kisah dari orang di sekelilingku yang pernah juga “merasakan” fantasi atas istilah tak konkrit itu. Tak jarang pula di antara mereka menggunakan istilah lain untuk menyebut perlakuan yang sama pada hal tersebut. Kurang lebih satu tahun yang lalu. Aku memasuki kehidupan seorang gadis yang aku sendiri tak tahu apa tujuanku untuk mengenalnya. Apakah hanya sebatas untuk mencari pelampiasan atas perasaan kesendirianku, mencari calon pengisi ruang hati yang sering diistilahkan sebagai pacar itu, atau bahkan mungkin aku menyebutnya sebagai portofolio masa depan karena mungkin suatu saat nanti Tuhan akan memberikan waktu kepada kami untuk bersama. Aku sampai detik ini masih tak mengerti.

‘Hey.... apa kabar denganmu?’

‘Masih seperti dulu. Tak ada yang berubah dari kesederhanaanku.’ Jawabku kepadanya yang begitu sering memanyakan hal yang sama seperti itu berulang kali.

Lebih konyolnya lagi, pertanyaan yang sama seperti itu sering hinggap di mata atau telingaku dari orang yang memberikan bekas mendalam di hidupku. Waktu bergulir begitu cepat dan tak terasa sampai detik ini sudah sekitar satu tahun perbincangan konyol di antara kami yang tanpa tujuan itu terjadi dan terulang. Bahkan mungkin tanpa sadar mulai muncul rasa nyaman hanya dari perbincangan konyol itu, dan mungkin juga ini akan menjadi kisah yang sama seperti perjalananku dengan gadis yang sebelumnya juga menghilang setelah lelah menantikan kepastian karena trend gaya hidup yang ada pada saat ini. Dan itulah yang menjadi alasanku mengapa tak pernah kujatuhkan perasaan dan harapku kepada hati-hati yang belum lama kukenal. Trauma rasanya adalah kata yang paling pas untuk menyebut ketakutanku atas jatuhnya hati dan harapan ini kepada hati-hati yang berlalu itu.

Pagi kali ini terasa begitu sejuk bagiku. Melihat orang-orang berlarian sepanjang jalan yang kususuri dari tempat biasa kudirikan sholat bersama dengan orang setempat menuju kediaman sederhanaku sambil kunaiki kuda besi tak berasap dengan dua kaki. Entah apakah memang pagi ini disajikan oleh Tuhanku dengan begitu cerahnya, atau karena aku melihat sosok yang begitu nyaman dalam pandangan serta ingatanku hingga indahnya terbawa dari dunia fantasiku. Yah, gadis manis yang mampu benar-benar membuatku merasa sanggup hidup tanpa tidur itu namanya adalah Isna. Gaya yang sederhana walau “sepertinya” berasal dari orang berkecukupan itu, tak salah lagi adalah malaikat penjaga jiwaku yang dikirimkan oleh Allah kepadaku dari surga. Kacamata bulat yang tak pernah bosan kulirik di setiap waktu yang kumiliki itu, seperti tamparan bagiku yang dulu beranggapan bahwa orang berkacamata adalah orang yang culun. Dan sekarang, seperti Tuhan menghadapkanku kepada hal yang tak bisa kutolak lagi kehadirannya dalam duniaku.

Aku pun tak mengerti kenapa waktu bergulir akhir-akhir ini terasa begitu lama. Menatap tawanya saja seolah sudah sangat lama. Padahal, siang di mana aku bertemu dengan Isna baru minggu kemarin. Tidak ada hal istimewa dalam perjumpaan kami kala itu. Dia tersenyum dan tertawa seperti biasanya. Aku pun demikian. Tanpa kutunjukkan betapa hatiku memujanya, aku hanya mengajaknya berbicara untuk sedikit berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Ini bukan tentang trend yang hanya ingin saling mengenal tapi tidak untuk pacaran, bukan. Dari sorot matanya saja aku sudah sangat paham dia bukan tipe orang yang suka bermain dengan hati, dia adalah orang yang suka berteman dengan siapapun.

Dan hari ini, tiga hari setelah aku melihat pagi yang teramat cerah itu, adalah perjumpaanku dengannya yang kesekian kalinya. Perlahan aku mulai salah tingkah dengan penampilanku. Aku yang memang tak pernah bisa dandan sebagai seorang pria, hari ini merasa begitu canggung untuk menemuinya. Dengan didampingi hangatnya mentari pagi, aku berencana mengajaknya untuk mengunjungi suatu tempat yang menurutku cukup istimewa. Setidaknya tempat yang kuyakin belum pernah dikunjungi Isna sebelumnya.

Adalah rasa tak karuhan yang ada saat kutahu ternyata dia mau menerima ajakanku untuk pergi. Dan hari ini sepertinya Tuhan mendukung acaraku karena mendung sama sekali tak hadir. Adalah secangkir jingga di langit senja yang menjadi pilihanku pada saat pertama kali kuajak Isna menjumpai indahnya alam itu. Ya, dia adalah gadis luar daerah yang tak suka bepergian hingga belum pernah menyaksikan tingginya bukit di mana Ratu Boko berdiri dengan kokohnya. Dan tepat sekali dengan dugaanku. Dia yang seperti gadis pada umumnya itu, sementara aku yang memang sedikit berbeda dari kawan-kawanku, bersama, berdua, kami mengabadikan tidurnya langi merah di ufuk barat bumi dengan lensa kamera DSLR yang kupinjam dari kawanku. Bagaikan model dan fotografernya, isna bergaya di dalam lensa kamera itu baik dengan menghadap maupun membelakangi langit senja. Tak ada yang istimewa, satu pun tak ada. Hanya senyum dan tawanya yang semakin membekas di dalam jurang hatiku yang telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Dan kini, adalah dia yang mampu merasuk jauh ke dalam jurang yang aku pun sampai detik ini masih yakin jika sakit itu akan sangat mungkin untuk kembali terulang.

“Ini masih mau berapa frame lagi pak?” tanya Isna padaku yang terus sibuk dengan kameraku untuk mengabadikan gambarnya bersama langit senja itu.

Nampak sedikit bias langit merah dalam kaca mata bundarnya saat aku menghampirinya untuk meminta sedikit gambar bersama. Dan, itulah teman bagi seorang Isna. Tanpa ragu ia menerima tawaranku untuk foto bersama dan mengabadikan merahnya senja kala itu dengan lensa kamera yang mungkin tak akan kudapati lagi momen seperti itu.

Rasanya, senja begitu dmaai meninggalkan terangnya bumi bersama bidadariku untuk sejenak tertidur di balik belahan bumi lain. Detik akhirnya bergulir dengan begitu cepatnya lagi. Adalah rumah Allah destinasi selanjutnya petualangan kami kali ini. Yah, seperti sebelum-sebelumnya aku yang masih merasa tak pantas untuk menampakkan wajahku kepada Tuhanku hanya mengekor saja ketika Isna mengajakku menemui-Nya. Dan luar biasa. Tak ada pria satu pun kala itu selain diriku yang berada di Masjid megah dekat Ratu Boko. Tanpa ada masalah dan pertmbangan semua orang memintaku untuk menjadi pemimpun sholat Maghrib berjamaah kala itu. Lalu, tibalah seorang pria tua yang nampaknya adalah warga sekitar yang turut mendiringku ke depan pertanda memang aku yang harus menjadi pemimpin sholat kala itu. “Baiklah....” jawabku dalam hati walau detak jantungku tak stabil dan cenderung terus meningkat.

Tak ada hal yang lebih istimewa lagi selain memohon ampun kepada Tuhan yang telah memberiku kehidupan dengan beriring ribuan doa di belakangku. Dan, lirih dalam doa di akhir shalatku kuucap nama Isna kepada Tuhanku berakhiran “jika memang engkau izinkan, maka jadikanlah dia, tapi jika tak kau jadikan, maka alasan bahwa bukan dia orang yang paling tepat untukku menurut-Mu adalah alasan yang tak mampu hamba tolak Wahai Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui”. Akhirnya, perjalanan pulang dari petualangan bersama langit senja kala itu dimulai. Bertabur bintang di langit malam yang gelap gulita, kususuri jalan menuju kediaman kami. Dan kemabil, layaknya seorang teman yang memang tak ada apapun di antara kami menjadikan malam begitu damai. Hanya sesekali jantungku berdbar tak karuan kala suaranya menggema di gendang telingaku. Entah mengapa tiba-tiba isna mengajakku berhenti sejenak untuk makan. Dan, baiklah, mungkin ia tengah lapar setelah seharian beraktivitas dengan manusia tak jelas sepertiku.

Tak ada kata sedikitpun darinya yang dapat terkenang, atau setidaknya kuingat ketika kami makan di tempat itu. Malam semakin dingin dan layaknya seorang pujangga kuletakkan jaketku di tubuh isna yang kedinginan. Perjalanan kami lanjutkan tanpa sepatah kata pun dia ntara kami. Sesampai di tempat tujuan kami, yaitu kediaman Isna aku merasa sedikit ahal aneh, benar saja tak ada kata apapun darinya. Meski mesin kuda besi yang kali ini kami naiki telah mati, tubuh Isna masih bersandar di pundakku tanpa sadar.

Lagi-lagi kaca mata bulat berwarna hitamnya itu-lah yang membuatnya semakin manis saat tertidur. “Isna,,,, kita udah sampai.” Lirih suaraku membangunkan Isna dari tidurnya di bahuku. “Oh iya Ki, maaf. Hehe capek banget. Untung aja nggak jatuh.” Sembari mengusap matanya yang baru saja terbuka, Isna turun dari kendaraan dan meninggalkan bahuku yang sebenarnya tak terlalu nyaman untuk digunakan sebagai tempat tidur.

“Yaudah, tidurnya dilanjutin. Hehe, besok masih harus kuliah kan?”

“Besok Minggu ki...”

“Waduh iya, lupa aku. Yaudah selamat tidur ya Isna..”

***


No comments:
Write comments

Tertarik dengan layanan kami?
Dapatkan selalu informasi terbaru !